Politik Tak Dapat Dipisahkan dari Agama


Oleh: Shiva Alami Nura’ini
(Komunitas Muslimah Rindu Surga Coblong, Bandung)

IMPIANNEWS.COM

Jelang tahun politik 2024, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada acara Tablig Akbar Idul Khotmi Nasional Thoriqoh Tijaniyah ke-231 di Pondok Pesantren Az-Zawiyah, Tanjung Anom, Garut, Jawa Barat, mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat. "Harus dicek betul. Pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah-belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih," ujar Menag Yaqut, Minggu (3/9/2023). Ia juga meminta masyarakat tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan.Menurutnya, agama seharusnya dapat melindungi kepentingan seluruh umat, masyarakat. Umat Islam diajarkan agar menebarkan Islam sebagai rahmat, rahmatan lil 'alamin, rahmat untuk semesta alam. Bukan rahmatan lil islami saja. Karenanya, pemimpin yang ideal harus mampu menjadi rahmat bagi semua golongan.

Statement tersebut sering kali terlontar dari para pemimpin atau para pemegang kekuasaan politik. Hal ini terjadi karena manusia sudah terlalu jauh dari agama dan terpisahnya agama dari kehidupan. Sementara Islam, tidak hanya sebuah agama ritual, tetapi sebuah sistem yang mengatur setiap sendir kehidupan. Dalam politik terdapat suatu proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat, seperti pembuatan keputusan khususnya dalam bernegara, kewenangan membuat aturan-aturan hukum, kewenangan melaksanakan hukum, dan kekuasaan melaksanakan peradilan untuk mempertahankan hukum, maka tidak mungkin jika tidak berhubungan dengan agama. Dampak dari jauhnya manusia dari agama, bahkan tidak sedikit kaum muslim yang menjauh dan menutup mata dari agama, mengakibatkan kaum muslim skeptis jika politik dikaitkan dengan agama. Karena semua kesadarannya tertutup dan terfokus pada hal duniawi saja, seperti membenarkan segala cara untuk kepentingan pribadi. Padahal sudah sejak dahulu sejak zaman Nabi Muhammad SAW politik ini pasti dikaitkan dan menyangkut dengan agama, bahkan tidak bisa dipisahkan. 

Dalam khazanah pemikiran Islam, politik yang disebut dengan siyasah. Kata ini diambil dari akar kata “sasa-yasusu”, yang berarti mengemudikan, mengendalikan mengatur menjalankan, dan sebagainya. Sebagaimana Rasulullah SAW itu sendiri menggunakan kata politik (siyasah) dalam sabdanya : “Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak para khalifah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis tersebut, Rasulullah sudah mengabarkan persoalan kekuasaan ataupun pemerintah. Maka, apabila ada yang mengatakan Islam tidak usah berpolitik, maka salah besar. Sebab, berpolitik adalah bagian yang amat penting bagi kaum muslimin. Jadi, kita harus memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syariat Islam. Terlebih, memikirkan dan memperhatikan urusan umat Islam hukumnya wajib. Dengan demikian, permasalahan politik di dalam Al-Quran ditunjukkan kepada semua umat manusia lintas ras, etnik, waktu dan tempat. Sehingga dengan hanya mengemukakan prinsip dan norma-norma politik, umat Islam mampu menerjemahkannya di setiap waktu.

Agama dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara. Sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja. Namun, Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat. Yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kezaliman oleh penguasa. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Imam Al-Ghazali terkait agama dan politik: “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh, dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap.” Oleh karena itu, seorang muslim jangan sampai anti dengan permasalahan politik. Sebab, jangan sampai kita mau diatur dan menjadi alat ajang adu domba. Untuk mencari kekuasaan dengan orang munafik atau pengkhianat bangsa; yang mengaku nasionalis. Sudah waktunya umat Islam harus mengambil alih peran dalam menyikapi isu-isu politik yang menyesatkan. Maka dari itu, persoalan yang sangat sistemik ini, hanya sistem Islam yang mampu memberikan solusi atas persoalan ini  secara mendasar dan  menyeluruh.

Post a Comment

0 Comments